Minggu, 08 Desember 2013

KOMUNIKASI NONVERBAL

Diposting oleh Unknown di 07.34

  KOMUNIKASI NONVERBAL


PADA AWAL ABAD KE-20, SEEKOR KUDA JERMAN BERNAMA Hans yang dimiliki seorang guru sekolah dilatih perhitungan sederhana, misalnya menghitung benda-benda yang diperlihatkan kepadanya di hadapan khalayak. Hasil perhitungannya ditunjukkannya dengan menggaruk tanah. Hans belajar penambahan, perkalian, pengurangan dan pembagian. Ia pun bahkan dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pecahan. Dihadapan khalayak penonton, Hans dapat memberikan jawaban yang benar mengenai jumlah penonton, menghitung sejumlah benda, dan memberitahukan tanggal berapa pun yang ditanyakan padanya. Hans ternyata “cerdas”, padahal ia tidak menguasai bahasa verbal. Ia hanya memberikan jawaban yang benar atas suatu pertanyaan sejauh penanya mengetahui jawabanya dan sejauh berada di dekat manusia. Apa rahasianya ? Ternyata semua penanya, khususnya pemiliknya sekaligus gurunya, member Hans isyarat-isyarat halus yang menunjukkan kapan ia harus berhenti menggaruk tanah. Tubuh penanya itu akan lebih santai, wajahnya tampak lega dan membuat sedikit gerakan kepala yang merupakan tanda bagi Hans untuk berhenti menggerakan kakinya. Seorang peneliti memutuskan menguju Hans dengan menempatkan pelatih pada posisi yang  tidak memungkinkan kuda itu melihatnya. Semua kemampuan bahasa Hans menghilang, dan ia tidak lagi mampu menjawab satu pertanyaan pun. Ia sepenuhnya bergantung pada ekspresi wajah dan isyarat tubuh gurunya yang bahkan tidak disadarinya untuk menjawab pertanyaan. Meskipun Hans cerdas, jelas ia tidak memiliki kemampuan verbal. Akan tetapi, ia mendemonstrasikan nonverbal.
Ilustrasi diatas tidak menunjukkan bahwa manusia dapat berkomunikasi dengan hewan secara nonverbal, melainkan mengisyaratkan sedikit kesamaan antara sinyal  nonverbal manusia dengan sinyal nonverbal hewan.
Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Lary A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima, jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan, kita mengirim banyak pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain.
Sebagaimana kata-kata, kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya, jadi dipelajari, bukan bawaan. Perilaku nonverbal kita bersifat spontan, ambigu, sering berlangsung cepat, dan diluar kesadaran dan kendali kita. Karena itulah Edward T.Hall menamai bahasa nonverbal ini sebagai “bahasa diam” (silent language) dan “dimensi tersembunyi” (hidden dimension) suatu budaya. Disebut diam dan tersembunyi, karena pesan nonverbal tertanam dalam konteks komunikasi. Selain isyarat situasional dan relasional dalam transaksi komunikasi, pesan nonverbal memberi memberi kita isyarat-isyarat kontekstual. Bersama isyarat verbal dan isyarat kontekstual , pesan nonverbal membantu kita menafsirkan seluruh makna pengalaman komunikasi.
Sebagaimana budaya, subkultur pun sering memiliki bahasa nonverbal yang khas. Dalam suatu budaya boleh jadi terdapat variasi bahasa nonverbal, misalnya bahasa tubuh, bergantung pada jenis kelamin, agama, usia, pekerjaan, pendidikan, kelas social, tingkat ekonomi , lokasi geografis, dan sebagainya. Begitu B.J. Habibie menjadi presiden (dalam era reformasi), ia berinisiatif menumbuhkan tradisi baru, yakni saling menempelkan pipi, ketika ia bertemu dengan pejabat bawahannya dan tokoh lain. Akan tetapi, begitu Habibie turun dari jabatan nya, digantikan Abdurrahman Wahid, kebiasaaan baru elite politik ini redup kembali, berganti sesekali cium tangan.
Dibandingkan dengan studi komunikasi verbal, studi komunikasi nonverbal sebenarnya masih relative baru. Bila bidang pertama mulai diajarkan pada zaman Yunani kuno, yakni studi tentang persuasi, khususnya pidato, studi paling awal bidang kedua mungkin baru dimulai pada tahun 1873 oleh Charles Darwin yang menulis tentang ekspresi wajah. Sejak itu, banyak orang yang mengkaji pentingnya  komunikasi nonverbal demi keberhasilan komunikasi, bukan hanya ahli-ahli komunikasi nonverbal, tetapi juga antropolog, psikolog, dan sosiolog. Symbol-simbol nonverbal lebih sulit ditafsirkan dari pada symbol-simbol verbal. Tidak ada satu pun kamus andal yang dapat membantu penerjemahan symbol nonverbal.

      I.          FUNGSI KOMUNIKASI NONVERBAL

Meskipun secara teoritis, komunikasi nonverbal dapat dipisahkan dari komunikasi verbal, dalam kenyataannya kedua jenis komunikasi tatap-muka sehari-hari. Dalam komunikasi ujaran, rangsangan verbal dan rangsangan nonverbal itu hampir selalu berlangsung bersama-sama dalam kombinasi. Kita memproses kedua jenis rangsangan itu dengan cara serupa sehingga kita mudah terkecoh untuk menekankan suatu perbedaan yang sebenarnya tidak hakiki, seperti dijelaskan Mark L. Knapp:
               Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui symbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak bersungguh-sungguh bersifat nonverbal.
Tidak ada struktur yang pasti, tetap, dan dapat diramalkan mengenai hubungan antara komunikasi verbal dan nonverbal. Keduanya dapat berlangsung spontan, serempak, dan non sekuensial. Sementara perilaku verbal adalah saluran-tunggal, perilaku nonverbal bersifat multisaluran. Bila kita mendengar suatu kata dalam bahasa asing yang tidak kita ketahui, kita dapat memeriksanya dalam kamus atau buku tentang frase dan memperkirakan apa yang dimaksud para pembaca. Kita dapat pula meminta pembicara mengulangi dan menjelaskan kata yang diucapkannya.
Suatu perbedaan lain yang menonjol antara pesan verbal dan pesan nonverbal adalah bahwa pesan verbal terpisah-pisah, sedangkan pesna nonverbal sinambung. Artinya, orang dapat mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapan pun ia menghendakinya, sedangkan pesan nonverbalnya tetap “mengalir”, sepanjang orang yang hadir didekatnya. Ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip komunikasi bahwa kita tidak dapat tidak berkomunikasi; setiap perilaku punya potensi untuk ditafsirkan. Jadi meskipun anda dapat menutup saluran linguistik anda untuk berkomunikasi dengan menolak berbicara atau menulis, anda tidak mungkin menolak berperilaku nonverbal.
Dilihat dari fungsionalnya, perilaku nonverbal mempunyai beberapa fungsi. Paul Ekman menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, seperti yang dapat dilukiskan denagn perilaku mata, yakni sebagai;
·       Emblem. Gerakan mata tertentu merupakan symbol yang memiliki kesetaraan dengan symbol verbal. Kedipan mata dapat mengatakan, “saya tidak bersunguh-sungguh”.
·       Illustrator. Pandangan kebawah dapat menunjukkan depresi atau kesedihan.
·       Regulator. Kontak mata berarti saluran percakapan terbuka. Memalingkan muka menandakan ketidaksediaan berkomunikasi.
·       Penyesuai. Kedipan mata yang cepat meningkat ketika orang berada dalam tekanan. Itu merupakan respon yang tidak disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangi kecemasan.
·       Affect Display. Pembesaran manik-mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainya menunjukkan perasaan takut, terkejut, atau senang.
Dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut.
·       Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, misalnya anda menganggukkan kepala ketika anda mengatakan “ya”, atau meggelenggankan kepala ketika mengatakan “tidak”.
·       Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya anda melambaikan tangan seraya mengucapkan “selamat jalan ”, “sampa jumpa lagi, ya”, atau “bye-bye”; atau anda menggunakan gerakan tangan, nada suara yang meninggi, atau suara yang lambat ketika anda berpidato di hadapan khalayak.
·       Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi berdiri sendiri, misalnya anda menggoyangkan tangan andadengan telapak tangan mengarah kedepan (sebagai pengganti kata “tidak”) ketika seorang pengamen mendatangi mobil anda atau anda menunjukkan letak ruang dekan dengan jari tangan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kepada seorang mahasiswa baru yang bertanya, “dimana ruang dekan, pak?”
·       Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku veral. Misalnya anda sebagai mahasiswa mengenakan jaket atau membereskan buku-buku, atau melihat jam tangan anda menjelang atau ketika kuliah berakhir; sehingga dosen segera menutup kuliahnya.

·       Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal. misalnya, seorang suami mengatakan, “Bagus! Bagus!” ketika dimintai komentar oleh istrinya mengenai gaun yang baru dibelinya, seraya terus membaca surat kabar atau menonton televise; atau seorang dosen melihat jam tangan dua tiga kal, padahal tadi ia mengatakan bahwa ia mempunyai waktu untuk berbicara dengan anda sebagai mahasiswanya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rise & Shine Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review