KOMUNIKASI NONVERBAL
PADA
AWAL ABAD KE-20, SEEKOR KUDA JERMAN BERNAMA Hans yang dimiliki seorang guru
sekolah dilatih perhitungan sederhana, misalnya menghitung benda-benda yang
diperlihatkan kepadanya di hadapan khalayak. Hasil perhitungannya ditunjukkannya
dengan menggaruk tanah. Hans belajar penambahan, perkalian, pengurangan dan
pembagian. Ia pun bahkan dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan
pecahan. Dihadapan khalayak penonton, Hans dapat memberikan jawaban yang benar
mengenai jumlah penonton, menghitung sejumlah benda, dan memberitahukan tanggal
berapa pun yang ditanyakan padanya. Hans ternyata “cerdas”, padahal ia tidak
menguasai bahasa verbal. Ia hanya memberikan jawaban yang benar atas suatu
pertanyaan sejauh penanya mengetahui jawabanya dan sejauh berada di dekat
manusia. Apa rahasianya ? Ternyata semua penanya, khususnya pemiliknya
sekaligus gurunya, member Hans isyarat-isyarat halus yang menunjukkan kapan ia
harus berhenti menggaruk tanah. Tubuh penanya itu akan lebih santai, wajahnya
tampak lega dan membuat sedikit gerakan kepala yang merupakan tanda bagi Hans
untuk berhenti menggerakan kakinya. Seorang peneliti memutuskan menguju Hans
dengan menempatkan pelatih pada posisi yang
tidak memungkinkan kuda itu melihatnya. Semua kemampuan bahasa Hans
menghilang, dan ia tidak lagi mampu menjawab satu pertanyaan pun. Ia sepenuhnya
bergantung pada ekspresi wajah dan isyarat tubuh gurunya yang bahkan tidak
disadarinya untuk menjawab pertanyaan. Meskipun Hans cerdas, jelas ia tidak memiliki
kemampuan verbal. Akan tetapi, ia mendemonstrasikan nonverbal.
Ilustrasi
diatas tidak menunjukkan bahwa manusia dapat berkomunikasi dengan hewan secara
nonverbal, melainkan mengisyaratkan sedikit kesamaan antara sinyal nonverbal manusia dengan sinyal nonverbal
hewan.
Secara
sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut
Lary A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal mencakup semua
rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan
oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai
pesan potensial bagi pengirim atau penerima, jadi definisi ini mencakup
perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa
komunikasi secara keseluruhan, kita mengirim banyak pesan-pesan tersebut
bermakna bagi orang lain.
Sebagaimana
kata-kata, kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat
oleh budaya, jadi dipelajari, bukan bawaan. Perilaku nonverbal kita bersifat
spontan, ambigu, sering berlangsung cepat, dan diluar kesadaran dan kendali
kita. Karena itulah Edward T.Hall menamai bahasa nonverbal ini sebagai “bahasa
diam” (silent language) dan “dimensi tersembunyi” (hidden dimension) suatu
budaya. Disebut diam dan tersembunyi, karena pesan nonverbal tertanam dalam
konteks komunikasi. Selain isyarat situasional dan relasional dalam transaksi
komunikasi, pesan nonverbal memberi memberi kita isyarat-isyarat kontekstual.
Bersama isyarat verbal dan isyarat kontekstual , pesan nonverbal membantu kita
menafsirkan seluruh makna pengalaman komunikasi.
Sebagaimana
budaya, subkultur pun sering memiliki bahasa nonverbal yang khas. Dalam suatu
budaya boleh jadi terdapat variasi bahasa nonverbal, misalnya bahasa tubuh,
bergantung pada jenis kelamin, agama, usia, pekerjaan, pendidikan, kelas
social, tingkat ekonomi , lokasi geografis, dan sebagainya. Begitu B.J. Habibie
menjadi presiden (dalam era reformasi), ia berinisiatif menumbuhkan tradisi
baru, yakni saling menempelkan pipi, ketika ia bertemu dengan pejabat
bawahannya dan tokoh lain. Akan tetapi, begitu Habibie
turun dari jabatan nya, digantikan Abdurrahman Wahid, kebiasaaan baru elite
politik ini redup kembali, berganti sesekali cium tangan.
Dibandingkan
dengan studi komunikasi verbal, studi komunikasi nonverbal sebenarnya masih
relative baru. Bila bidang pertama mulai diajarkan pada zaman Yunani kuno,
yakni studi tentang persuasi, khususnya pidato, studi paling awal bidang kedua
mungkin baru dimulai pada tahun 1873 oleh Charles Darwin yang menulis tentang
ekspresi wajah. Sejak itu, banyak orang yang mengkaji pentingnya komunikasi nonverbal demi keberhasilan
komunikasi, bukan hanya ahli-ahli komunikasi nonverbal, tetapi juga antropolog,
psikolog, dan sosiolog. Symbol-simbol nonverbal lebih sulit ditafsirkan dari
pada symbol-simbol verbal. Tidak ada satu pun kamus andal yang dapat membantu
penerjemahan symbol nonverbal.
I. FUNGSI KOMUNIKASI NONVERBAL
Meskipun
secara teoritis, komunikasi nonverbal dapat dipisahkan dari komunikasi verbal,
dalam kenyataannya kedua jenis komunikasi tatap-muka sehari-hari. Dalam
komunikasi ujaran, rangsangan verbal dan rangsangan nonverbal itu hampir selalu
berlangsung bersama-sama dalam kombinasi. Kita memproses kedua jenis rangsangan
itu dengan cara serupa sehingga kita mudah terkecoh untuk menekankan suatu
perbedaan yang sebenarnya tidak hakiki, seperti dijelaskan Mark L. Knapp:
Istilah
nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar
kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa
peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui symbol-simbol verbal.
Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak
bersungguh-sungguh bersifat nonverbal.
Tidak
ada struktur yang pasti, tetap, dan dapat diramalkan mengenai hubungan antara
komunikasi verbal dan nonverbal. Keduanya dapat berlangsung spontan, serempak,
dan non sekuensial. Sementara perilaku verbal adalah saluran-tunggal, perilaku
nonverbal bersifat multisaluran. Bila kita mendengar suatu kata dalam bahasa
asing yang tidak kita ketahui, kita dapat memeriksanya dalam kamus atau buku
tentang frase dan memperkirakan apa yang dimaksud para pembaca. Kita dapat pula
meminta pembicara mengulangi dan menjelaskan kata yang diucapkannya.
Suatu
perbedaan lain yang menonjol antara pesan verbal dan pesan nonverbal adalah
bahwa pesan verbal terpisah-pisah, sedangkan pesna nonverbal sinambung.
Artinya, orang dapat mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapan pun ia menghendakinya,
sedangkan pesan nonverbalnya tetap “mengalir”, sepanjang orang yang hadir
didekatnya. Ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip komunikasi bahwa kita tidak dapat tidak berkomunikasi; setiap
perilaku punya potensi untuk ditafsirkan. Jadi meskipun anda dapat menutup
saluran linguistik anda untuk berkomunikasi dengan menolak berbicara atau
menulis, anda tidak mungkin menolak berperilaku nonverbal.
Dilihat
dari fungsionalnya, perilaku nonverbal mempunyai beberapa fungsi. Paul Ekman
menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, seperti yang dapat dilukiskan denagn
perilaku mata, yakni sebagai;
·
Emblem. Gerakan mata tertentu
merupakan symbol yang memiliki kesetaraan dengan symbol verbal. Kedipan mata
dapat mengatakan, “saya tidak bersunguh-sungguh”.
·
Illustrator. Pandangan kebawah dapat menunjukkan
depresi atau kesedihan.
·
Regulator. Kontak mata berarti
saluran percakapan terbuka. Memalingkan muka menandakan ketidaksediaan
berkomunikasi.
·
Penyesuai. Kedipan mata yang cepat
meningkat ketika orang berada dalam tekanan. Itu merupakan respon yang tidak
disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangi kecemasan.
·
Affect Display. Pembesaran manik-mata
(pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainya
menunjukkan perasaan takut, terkejut, atau senang.
Dalam
hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi-fungsi
sebagai berikut.
·
Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, misalnya
anda menganggukkan kepala ketika anda mengatakan “ya”, atau meggelenggankan
kepala ketika mengatakan “tidak”.
·
Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal.
Misalnya anda melambaikan tangan seraya mengucapkan “selamat jalan ”, “sampa
jumpa lagi, ya”, atau “bye-bye”; atau anda menggunakan gerakan tangan, nada
suara yang meninggi, atau suara yang lambat ketika anda berpidato di hadapan
khalayak.
·
Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi
berdiri sendiri, misalnya anda menggoyangkan tangan andadengan telapak tangan
mengarah kedepan (sebagai pengganti kata “tidak”) ketika seorang pengamen
mendatangi mobil anda atau anda menunjukkan letak ruang dekan dengan jari
tangan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kepada seorang mahasiswa baru yang
bertanya, “dimana ruang dekan, pak?”
·
Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku veral. Misalnya
anda sebagai mahasiswa mengenakan jaket atau membereskan buku-buku, atau
melihat jam tangan anda menjelang atau ketika kuliah berakhir; sehingga dosen
segera menutup kuliahnya.
·
Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan
perilaku verbal. misalnya, seorang suami mengatakan, “Bagus! Bagus!” ketika
dimintai komentar oleh istrinya mengenai gaun yang baru dibelinya, seraya terus
membaca surat kabar atau menonton televise; atau seorang dosen melihat jam
tangan dua tiga kal, padahal tadi ia mengatakan bahwa ia mempunyai waktu untuk
berbicara dengan anda sebagai mahasiswanya.
0 komentar:
Posting Komentar